Aku duduk di atas atap kapal, memandang jauh ke horison yang tercemari asap hitam buangan knalpot. Purwanto, rekan seperjalananku, mungkin benar. Knalpot itu lebih mirip periskop. Ia merupakan besi tebal berkarat yang menjulang ke atas dan melengkung pada bagian ujung. Dan, ia merongrong terus-menerus dengan suara rendah yang konstan. Jika ia seorang lelaki, bisa dipastikan setelan suaranya adalah bariton. Ya, bariton dengan nafas yang bau. Suara itulah yang menemani penumpang dalam perjalanan menuju pulau Tidung di kawasan Kepulauan Seribu.Meski berwarna biru cerah, pagi itu langit terasa polos tanpa kehadiran awan yang menggulung. Air laut pun tak jernih, namun, entah mengapa seperti mengundangku untuk mencicipinya. Aku duduk tak bergeming menyaksikan panorama yang tampak wajar saja. Tapi, jauh di lubuk hati, sepertinya aku tahu apa arti dari keindahan dalam kesenyapan. Dengan itulah aku memulai trip terakhir dari Travel Writing Class(TWC) yang bertajuk Biking in Paradise ini.
Kami tiba di pulau Tidung setelah terombang-ambing selama dua setengah jam lebih di lautan. Sebagian peserta tampak kelelahan, sebagian bersyukur karena terlepas dari siksaan mabuk laut, sebagian lain tampak seperti udang rebus yang memerah karena terbakar matahari. Rombongan kami pun bergerak menuju rumah penduduk yang telah disewa. Rumah ini cukup layak ditinggali. Setiap rumah terdiri dari satu kamar tidur, kamar mandi, kulkas, TV, dan ruang tamu. Sepadan dengan harga Rp200.000 yang dipatok per malam. Sebuah penginapan yang bagus, selama Anda mengabaikan estetika bangunan. Sungguh, mereka butuh desainer interior!
Kami memulai kegiatan setelah makan siang. Sepeda-sepeda itu telah disiapkan oleh Wardi, penduduk setempat yang membantu mengurus keperluan kami di sana. Ia terlihat cukup kesulitan mengumpulkan sepeda-sepeda yang layak pakai. Beberapa di antaranya mengalami masalah dengan rem yang blong. “Sudah, di sini ngga perlu pake rem,” tangkis Wardi. Mungkin, ia benar. Nyatanya aku hampir tak pernah menggunakan rem karena medannya sendiri tak memungkinkan untuk melaju cepat. Medan itu merupakan kombinasi antara bebatuan, tanah, pasir, dan rumput, sehingga friksi antara kaki dan tanah saja sudah cukup untuk membuat sepeda berhenti. Sejujurnya, aku menunggangi sepeda yang mengenaskan. Ia tidak punya rem sama sekali, rodanya terasa ‘lari’ saat dibawa jalan, plus, pedal itu sudah teramat longgar. Oh, Tuhan, Aku harus menendang untuk mengencangkannya setiap sepuluh kali kayuh! Ok, aku memang bahan lelucon.
Tentu saja, semua kendala tak menyurutkan niatku bersepeda keliling pulau. Sisa hari yang ada kuhabiskan untuk mengeksplorasi pulau Tidung Besar. Oh, iya, memang ada dua pulau Tidung di sini. Yang satu ialah pulau Tidung Besar, tempat di mana seluruh penduduk tinggal dan beraktifitas. Yang lain bernama pulau Tidung Kecil. Pulau ini hanya didiami oleh seorang juru kunci dari makam seorang pahlawan bernama Panglima Hitam. Kedua pulau terhubung oleh jembatan panjang yang membelah laut. Namun, di pulau Tidung Besar-lah aku pertama kali bertemu mereka. Mereka yang kusebut dengan ‘malaikat-malaikat pasir putih’.
Izmi(7), Wenda(8), dan Erika(7) adalah penguntit yang tangguh. Mereka sepertinya memiliki akses energi tanpa batas hingga sanggup menemani kami jalan-jalan mengitari pulau. Laiknya anak-anak, tingkah laku mereka sangat aktif tak keruan. Tanpa lelah, tanpa keluh kesah. Ada saja bisa dijadikan permainan oleh mereka, mulai dari pasir, ranting pohon, ombak, rerumputan, hingga bebatuan. Mereka senang menjadi pusat perhatian.Pulau Tidung memang memiliki banyak spot yang indah untuk disinggahi. Dan, Spot-spot ini memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain. Di salah satu spot yang kami sebut sebagai ‘pantai semut’ –lantaran banyaknya semut merah yang bertebaran-, ketiga gadis cilik itu dengan girang bermain ayunan dengan cara bergelantungan pada seutas tali yang tergantung pada batang pohon. Kegirangan mereka membuat para peserta TWC penasaran dan turut mencoba. Di tempat ini hadir pula dua malaikat cilik baru, kali ini laki-laki. Mereka bernama Sugi(13) dan Bagas(7).
Kami telah melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di sisi timur pulau. Di sini, kami beristirahat cukup lama dengan ditemani segarnya air kelapa. Aku menghiraukan panas yang menyengat dan menceburkan diri ke laut. Pasir pantai itu demikian putih, dibasahi oleh air sejernih kaca yang memantulkan bias sinar matahari. Suara gemericik air berpadu dengan hembusan angin laut membentuk harmoni yang indah. Aku juga bisa mencium bau laut yang telah lama kurindukan.
Sugi dan Bagas menemaniku beristirahat setelah kami menyusuri pantai dan berhenti di sebuah spot yang banyak ditumbuhi pohon cemara. Di sinilah aku mulai mengenal mereka. Bagas, sang adik, bisa dibilang sangat atraktif. Ia sangat senang difoto, meski jarang berbicara. Pose andalannya ialah menyengir dengan mengacungkan jari-jari tangan yang membentuk simbol metal. Dalam bahasa psikologi, jelas ia merupakan bocah berkepribadian sanguinis. Sementara Sugi, sang kakak, lebih kalem. Usia yang lebih dewasa membuatnya lebih mudah diajak berkomunikasi.
Kehidupan Sugi sebagai anak pulau tentu sangat berbeda dengan anak-anak yang tumbuh di perkotaan. Namun, sepertinya ia tidak keberatan dengan itu. “Saya senang main di sini,” ujarnya. Saat itu sekolahnya sedang libur, dan ia memanfaatkan waktu tersebut dengan bermain sepuasnya. Permainannya pun bisa dikategorikan sebagai permainan tradisional, seperti main kelereng, main gambaran, adu serangga, berenang, bersepeda, sepak bola, hingga memancing. “Di sini memancing sangat enak, ikannya banyak,” ia menjelaskan seraya menyeringai.
Usai beristirahat, seluruh peserta TWC mengayuh sepedanya menuju sebuah shelter di tengah jembatan panjang yang menghubungkan dua pulau Tidung untuk menyaksikan matahari tenggelam. Saat kami melewati sebuah lapangan sepak bola, Sugi yang membonceng Bagas mengambil arah berbeda, memotong melintas lapangan dan berhenti di salah satu rumah di dekat pohon Jambu. Aku berhenti sejenak dan menyaksikan ia menghambur ke dalam rumah. Sunset di pulau Tidung sungguh menimbulkan kesan magis. Matahari yang menyerupai bola merah membara itu perlahan tenggelam di horison.
Suara bariton itu kembali terdengar, menjadi penanda bahwa ini waktunya kami angkat kaki dari sini. Sebuah pengalaman baru telah membekas dalam hati. Kapal kami mulai bergerak, dan aku merebahkan diri dengan kepala beralaskan tas ransel, siap untuk tidur selama kami mengarungi lautan. Aku menengok ke belakang sekali lagi, dan, di sanalah mereka berada. Malaikat-malaikat pasir putih. Sugi, Alam, dan Ripo mengurai senyum dan melambaikan tangannya. Seolah berseru, “sampai jumpa!”
Setiap pagi, sekitar pukul 08.00, Sugi dan Bagas keluar untuk memancing. Bukan karena hobi, hal ini ia lakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Bapaknya tidak lagi bekerja dengan alasan fisiknya yang kurang mendukung. Ibunya sakit-sakitan dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Pemasukan utama keluarganya, termasuk biaya sekolah Sugi dan Bagas, didapat dari kakak Sugi yang bekerja di sebuah kapal penangkap ikan. ‘Penjaring Jepang’, begitu Sugi menyebutnya. Entah mengapa disebut demikian. Hanya saja, sang kakak hanya pulang ke rumah sekali dalam setahun saat bulan puasa. Mau tak mau, Sugi yang baru saja tamat SD ini ikut membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau makan, sih, gampang. Setiap hari kita makan ikan yang dikeringkan,” ujarnya mantap.
Usai beristirahat, seluruh peserta TWC mengayuh sepedanya menuju sebuah shelter di tengah jembatan panjang yang menghubungkan dua pulau Tidung untuk menyaksikan matahari tenggelam. Saat kami melewati sebuah lapangan sepak bola, Sugi yang membonceng Bagas mengambil arah berbeda, memotong melintas lapangan dan berhenti di salah satu rumah di dekat pohon Jambu. Aku berhenti sejenak dan menyaksikan ia menghambur ke dalam rumah. Sunset di pulau Tidung sungguh menimbulkan kesan magis. Matahari yang menyerupai bola merah membara itu perlahan tenggelam di horison.Hari masih gelap ketika para peserta TWC sibuk menyiapkan sepeda. Kami berniat mendatangi jembatan itu sekali lagi, kali ini untuk mengejar fajar menyingsing. Apa yang diharapkan pun tiba. Di ufuk timur, matahari menyembul dari sela-sela awan, menyebabkan timbulnya berkas-berkas cahaya kuning yang memancar dan mewarnai birunya langit. Kami sarapan di shelter yang sama sebelum kami beranjak untuk mengeksplorasi pulau Tidung Kecil.
“Yuk, kita pergi ke makam,” ajaknya. Sugi kembali hadir menemani kami. Bagas yang tidak ikut serta lantaran jatuh sakit digantikan oleh Alam dan Ripo. Mereka menuntunku menerobos jalan setapak yang dipenuhi alang-alang di kanan-kirinya. Makam itu sangat besar. Kuburannya saja panjangnya sekitar tiga meter. Di sekelilingnya terdapat pagar yang terbuat dari bambu dengan pintu masuk kecil di bagian depan. Di sekitar makam terdapat sebuah musholla sederhana yang terbuat dari semen dan beratapkan asbes. Di situ juga terdapat sumur serta rumah kayu ‘asal jadi’ yang menjadi tempat tinggal juru kunci makam. Tempat ini sangat teduh berkat pohon-pohon besar yang tumbuh di sana. Aku bisa melihat beberapa kalong yang terbang dengan gesit di sela-sela pohon.
Rupanya, sudah menjadi semacam ritual bagi bocah-bocah pulau Tidung ini untuk membersihkan makam saat mereka berkunjung ke sana. Dengan sigap Sugi mengambil sapu dan membersihkan makam tersebut dari daun-daun yang berguguran. Alam dan Ripo bergerak memunguti ranting-ranting pohon dan mengenyahkannya. Sesungguhnya, tak seorang pun dari bocah ini yang memahami sejarah Panglima Hitam. Mereka tidak tahu bahwa Panglima Hitam sesungguhnya berasal dari tlatah Malaysia yang lari hingga pulau ini. Seperti anak-anak kebanyakan, pengetahuan mereka hanya sebatas bahwa Panglima Hitam adalah pahlawan mereka yang berperang melawan Belanda.
Mereka kembali menyusuri jalan setapak untuk menunjukkan lokasi sumur Bawang. Dulu, di sekitar sumur ini memang ditanami bawang. Dan, konon, air dari sumur ini memiliki khasiat menyembuhkan. Banyak pengunjung yang datang ke pulau Tidung untuk mengambil air sumur Bawang ini. Mereka menampungnya dengan botol-botol air mineral dan membawanya pulang. Sugi, Alam, dan Ripo pun tak ketinggalan. Mereka membasuh wajah dan mencuci kaki-kaki mereka dengan air sumur sebelum beranjak pergi. “Supaya pintar,” imbuhnya.
Aku bisa saja tersasar kalau tidak ada malaikat-malaikat penunjuk jalan ini. Perjalanan dari makam menuju bibir pantai cukup membingungkan bagi orang awam. Jalanan itu tertutup rumput-rumput liar setinggi dada. Bocah-bocah ini tentu sudah hafal medan sehingga mampu dengan mudah menerobos tanpa tedeng aling-aling.
Rupanya, ini seperti jalan pintas. Kami berhasil sampai di bibir pantai dalam waktu singkat. Aku menyukai apa yang kulihat. Pantai di sisi ini lebih indah dari sisi manapun di pulau Tidung. Hamparan pasir putih melimpah ruah. Airnya sangat bening, sehingga ikan-ikan kecil yang berenang wara-wiri pun terlihat jelas. Langit juga mendukung kami. Berbeda dengan hari pertama, Di sepanjang pantai terdapat batang-batang pohon berguguran, yang memberi kesan dramatis selama perjalanan menyusurinya. Aku bisa bilang bahwa Sugi, Alam, dan Ripo memiliki talenta sebagai fotomodel. Mereka sangat luwes dan ‘total’ dalam bergaya di depan kamera. Mereka bahkan menawarkan diri untuk memanjat pohon demi hasil foto yang bagus. Ah, rasanya fotografer manapun bisa mendapatkan foto yang natural dan berkarakter jika mereka adalah modelnya. Aku melihat sebuah spot di kejauhan di mana para peserta TWC melakukan snorkeling. Aku menghabiskan beberapa jam untuk bermain di pantai ini. Tanpa kusadari, malaikat-malaikat itu sudah menghilang entah kemana.
Badanku mengalami keletihan yang luar biasa sepanjang perjalanan kembali ke penginapan. Kulitku terasa perih, pundak dan kakiku teramat pegal. Aku sempat berhenti di sebuah warung dan membeli dua kotak susu segar dingin yang kuseruput habis dalam waktu singkat. Aku berpapasan dengan Izmi dan Wenda di perjalanan. Mereka meneriakkan namaku dan tersenyum saat kumenatap mereka sambil lalu. Seluruh peserta TWC makan dengan cepat, mandi dengan cepat, dan berkemas dengan cepat. Kapal yang menjemput kami telah tiba di dermaga dan dijadwalkan berangkat pukul 14.30. Trip ini akan segera berakhir.
Suara bariton itu kembali terdengar, menjadi penanda bahwa ini waktunya kami angkat kaki dari sini. Sebuah pengalaman baru telah membekas dalam hati. Kapal kami mulai bergerak, dan aku merebahkan diri dengan kepala beralaskan tas ransel, siap untuk tidur selama kami mengarungi lautan. Aku menengok ke belakang sekali lagi, dan, di sanalah mereka berada. Malaikat-malaikat pasir putih. Sugi, Alam, dan Ripo mengurai senyum dan melambaikan tangannya. Seolah berseru, “sampai jumpa!”
